Gelombang demonstrasi mahasiswa kembali mengguncang gedung DPR RI pada 25–31 Agustus 2025. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan menolak sejumlah kebijakan kontroversial. Namun berbeda dengan era 1998, kini pergerakan mahasiswa tidak hanya terjadi di jalanan, melainkan juga di timeline media sosial. Twitter (X), Instagram, TikTok, hingga WhatsApp menjadi senjata utama untuk mobilisasi, menyebarkan informasi, hingga membentuk opini publik.
Media Sosial sebagai Alat Mobilisasi
Salah satu ciri khas demo mahasiswa masa kini adalah koordinasi yang cepat. Melalui grup WhatsApp dan Telegram, informasi titik kumpul dan rute aksi tersebar hanya dalam hitungan menit.
Sementara itu, Twitter (X) dan Instagram Story menjadi kanal publikasi terbuka yang mendorong lebih banyak mahasiswa dan masyarakat umum bergabung. Dengan satu unggahan, ribuan orang bisa mengetahui lokasi aksi, jadwal, hingga pesan moral yang ingin disampaikan.
Tagar & Viral Konten
Dalam demo DPR 25–31 Agustus 2025, sejumlah tagar berhasil menduduki trending topic nasional, di antaranya:
- #ReformasiDikorupsiJilid2
- #TolakRUUKontroversial
- #MahasiswaBergerak
Video aksi massa, orasi, hingga bentrokan dengan aparat langsung menyebar lewat TikTok dan Reels. Beberapa konten bahkan ditonton jutaan kali hanya dalam 24 jam. Hal ini menunjukkan bahwa demo bukan hanya terjadi di jalanan, tetapi juga di ruang digital tempat opini publik dibentuk.
Perang Narasi di Timeline
Seiring dengan meningkatnya eksposur, muncul pula perang narasi. Di satu sisi, mahasiswa dan aktivis menggunakan media sosial untuk menyuarakan aspirasi, menyebarkan fakta lapangan, dan memperkuat solidaritas.
Namun di sisi lain, akun buzzer dan simpatisan pemerintah mencoba mengimbangi dengan framing berbeda, misalnya menyebut demo sebagai tindakan anarkis atau ditunggangi pihak tertentu. Pertarungan narasi ini membuat media sosial menjadi ** medan pertempuran opini publik **.
Disinformasi & Hoaks
Salah satu risiko terbesar dari peran media sosial dalam demo adalah disinformasi. Beberapa potongan video kekerasan dipelintir seolah berasal dari mahasiswa, padahal konteksnya berbeda. Foto lama juga kembali diedarkan untuk menggiring opini.
Hal ini menegaskan pentingnya literasi digital. Mahasiswa dan masyarakat perlu mampu memverifikasi informasi sebelum membagikan, agar tidak terjebak dalam pusaran hoaks yang bisa merugikan gerakan itu sendiri.
Solidaritas Digital → Aksi Nyata
Media sosial tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga pemicu solidaritas nyata. Banyak netizen yang awalnya hanya memberi dukungan lewat posting akhirnya memutuskan ikut turun ke jalan setelah melihat video viral atau membaca thread panjang tentang isu yang diprotes.
Dukungan digital juga hadir dalam bentuk donasi online, penyediaan logistik, hingga layanan medis darurat yang diinformasikan lewat akun publik. Ini membuktikan bahwa klik dan like bisa berubah menjadi aksi nyata.
Respon Pemerintah & Media Arus Utama
Viralnya demo mahasiswa di media sosial memaksa pemerintah bergerak cepat. Beberapa pejabat DPR maupun kementerian segera menggelar konferensi pers, bahkan melakukan klarifikasi langsung melalui akun resmi mereka di X dan Instagram.
Media arus utama yang awalnya lambat memberitakan, akhirnya ikut meliput lebih intens setelah melihat isu demo mendominasi jagat maya. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi barometer isu publik yang memengaruhi kebijakan komunikasi pemerintah.
Kesimpulan
Demo mahasiswa DPR 25–31 Agustus 2025 menjadi bukti bahwa ruang digital dan ruang jalanan kini saling melengkapi. Media sosial berperan sebagai:
- Alat mobilisasi cepat melalui grup dan posting viral.
- Panggung narasi publik di mana dukungan dan penolakan bertarung.
- Medium dokumentasi sejarah, mengabadikan momen demo dalam bentuk digital.
- Katalis solidaritas, mendorong aksi nyata dari simpati online.
Peran media sosial dalam demonstrasi mahasiswa tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia bukan sekadar pelengkap, melainkan mesin penggerak utama yang membentuk arah, skala, dan dampak gerakan.





